Beranda / Opini / Jebakan “Highlight Reel” di Media Sosial: Mencari Validasi di Balik Prestasi

Jebakan “Highlight Reel” di Media Sosial: Mencari Validasi di Balik Prestasi

Oleh: Nofrialisa (Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Imam Bonjol Padang)

“Ingin diakui, namun perlahan kehilangan diri.”

Setiap kali jari menyentuh layar, kita disambut parade pencapaian: sertifikat magang, foto wisuda, seminar, hingga unggahan “I’m grateful to announce…” di LinkedIn. Semuanya tampak cemerlang—seolah dunia ini dihuni oleh orang-orang yang selalu tahu arah hidupnya. Namun di balik sorotan itu, banyak yang diam-diam kelelahan; berlari tanpa tahu untuk apa, terjebak dalam keinginan untuk terlihat sukses, bukan benar-benar tumbuh.

Hidup yang Terlalu Tersorot?
Ya, inilah highlight reel effect—kecenderungan manusia hanya menampilkan bagian terbaik dari hidupnya. Kita memoles cerita, memilih sudut terbaik, dan menyembunyikan kekacauan di balik layar. Masalahnya, kita sering membandingkan realitas penuh luka dan jatuh kita dengan potongan paling sempurna dari hidup orang lain.

Penelitian Harvard (2017) menunjukkan bahwa melihat konten prestasi orang lain secara terus-menerus dapat menurunkan suasana hati dan memicu rasa kurang. Bahkan riset terhadap 709 mahasiswa di Indonesia menemukan bahwa intensitas penggunaan media sosial berkaitan langsung dengan burnout akademik dan gejala depresi ringan.

Media sosial yang awalnya diciptakan untuk terhubung, kini berubah menjadi panggung kompetisi senyap—tempat setiap orang berlomba terlihat produktif, inspiratif, dan berprestasi. Banyak mahasiswa ikut lomba bukan karena rasa ingin tahu untuk belajar, melainkan karena butuh sesuatu untuk dibagikan.

Dan di setiap unggahan, ada bisikan kecil yang jarang diakui: “Apakah aku cukup?” Tekanan untuk selalu terlihat produktif menciptakan bentuk kelelahan baru. Bukan hanya karena tugas, tetapi karena haus pengakuan.

Namun penting diingat, berbagi pencapaian di media sosial bukanlah hal yang salah. Bagi sebagian orang, itu bentuk apresiasi diri, cara menyemangati orang lain, atau langkah kecil membangun jejaring profesional. Masalahnya muncul ketika kita menilai nilai diri dari seberapa banyak pengakuan yang diterima.

Riset terbaru di Scientific Reports (Nature, 2025) menyebut bahwa 84% mahasiswa yang aktif di media sosial lebih dari tiga jam per hari mengalami kelelahan mental dan gangguan tidur. Angka yang mengkhawatirkan, namun sering disembunyikan di balik senyum dan caption penuh semangat. Ironisnya, kelelahan ini justru muncul dari sesuatu yang kita kira membangun diri.

Kita ingin berkembang, tapi malah tersesat di jalan pembuktian.
Kita ingin berbagi, tapi tanpa sadar sedang mencari tepuk tangan.
Kita ingin dikenal, tapi lupa mengenal diri sendiri.

Mungkin yang kita butuhkan bukan berhenti dari media sosial, melainkan belajar berdamai dengannya. Belajar menikmati ruang hening di antara sorotan, tanpa membandingkan langkah kita dengan kilatan langkah orang lain. Ada keindahan dalam perjalanan yang tidak diunggah—proses panjang yang hanya kita pahami sendiri.

Di situ tumbuh sesuatu yang lebih berharga dari pengakuan: ketulusan.

Kita perlu mengembalikan makna kata berprestasi ke tempat asalnya—bukan sebagai ajang unjuk diri, melainkan wujud syukur dan keberanian untuk belajar. Prestasi sejati tidak selalu berwujud sertifikat atau panggung, tetapi sering kali tersembunyi di balik perjuangan kecil yang tidak disiarkan siapa pun.

Kita juga perlu memaknai ulang diam. Tidak semua langkah harus disiarkan. Tidak semua keberhasilan harus diumumkan. Ada proses yang hanya bisa tumbuh ketika tak dilihat siapa pun—seperti benih yang menunggu matahari di bawah tanah.

Ketika kita berhenti memaksa diri untuk selalu terlihat, kita memberi ruang bagi diri untuk benar-benar hidup. Dan dari ruang itu, tumbuhlah kedamaian, rasa cukup, rasa syukur, serta kesadaran bahwa kita tetap layak, bahkan tanpa sorotan.

Di dunia yang menilai dari tampilan, berani menjadi nyata adalah bentuk keberanian paling langka.
Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang tetap jujur pada dirinya sendiri di tengah perlombaan semu.

Mungkin kebahagiaan sejati bukan ketika semua orang melihat kita bersinar, melainkan ketika kita tahu bahwa meski lampu-lampu padam, kita masih punya cahaya dari dalam.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *