Sumbarpress – Ketegangan antara Iran dan Israel terus meningkat setelah rentetan serangan saling balas yang terjadi sejak Kamis (12/6/2025). Konflik ini menimbulkan korban jiwa dan luka-luka di kedua belah pihak, memicu kekhawatiran krisis kemanusiaan dan ancaman terhadap stabilitas kawasan.
Serangan awal dilancarkan oleh Israel, yang menyasar sejumlah fasilitas strategis di Iran. Menurut pernyataan Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, sedikitnya 78 orang tewas dan sekitar 320 orang lainnya terluka akibat serangan tersebut. Target utama Israel meliputi fasilitas pertahanan udara, situs nuklir, dan infrastruktur minyak.
Kementerian Perminyakan Iran mengonfirmasi dua depot bahan bakar di Teheran menjadi sasaran, salah satunya menyebabkan kebakaran hebat di wilayah Shahran, barat laut ibu kota. Selain itu, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa salah satu gedung Kementerian Pertahanan Iran juga mengalami kerusakan akibat serangan. Namun, otoritas Iran belum memberikan pembaruan resmi terkait total korban terbaru.
Sebagai respons, Iran membalas dengan meluncurkan puluhan rudal ke wilayah Israel sejak Sabtu malam hingga Minggu (15/6/2025). Sedikitnya 10 orang tewas, termasuk beberapa anak-anak, serta lebih dari 200 orang luka-luka, menurut laporan dari layanan darurat Israel. Sirene peringatan berbunyi di berbagai kota besar seperti Tel Aviv dan Yerusalem, membuat jutaan warga Israel berhamburan ke tempat perlindungan.
Militer Israel mengklaim berhasil mencegat tujuh unit drone yang diarahkan ke wilayahnya. Situasi semakin memanas dengan klaim dari kelompok Houthi di Yaman, yang menyatakan ikut meluncurkan rudal ke arah Israel sebagai bagian dari solidaritas terhadap Iran.
Di tengah konflik bersenjata tersebut, upaya diplomasi internasional ikut terguncang. Iran menuduh Israel telah “melewati batas merah” dengan menyerang fasilitas nuklir mereka. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut Israel tidak menginginkan adanya kesepakatan terkait program nuklir dan justru berupaya menggagalkan proses negosiasi yang tengah berlangsung.
Sebagai bentuk protes, Iran mengumumkan penghentian sementara kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Padahal sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat telah menyepakati untuk memulai putaran keenam negosiasi program nuklir yang rencananya digelar di Oman. Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tidak akan hadir selama agresi Israel belum dihentikan.
Hingga kini, tekanan internasional terhadap kedua pihak terus meningkat. Meski Amerika Serikat dan sekutunya mendesak gencatan senjata, eskalasi serangan balasan antara Iran dan Israel justru menempatkan kawasan Timur Tengah dalam kondisi siaga penuh, sekaligus mengancam runtuhnya upaya diplomasi nuklir yang telah dibangun selama bertahun-tahun. (Sumber: Kompas.com)






