Sumbarpress – Perjalanan hidup Dr. M. Amirul Ramli, S.Pd., M.Pd. menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tertinggi. Pria yang pernah menjalani hidup sebagai marbot masjid dan penjual keliling di kawasan Malioboro itu kini resmi menyandang gelar doktor dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Amirul meraih gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Model Pemaknaan Hidup pada Pelaku Self-Harm” dalam Ujian Disertasi Program Doktor Psikologi Pendidikan Islam UMY. Penelitian tersebut lahir dari kepeduliannya terhadap isu kesehatan mental, khususnya bagaimana individu yang pernah mengalami self-harm membangun kembali makna hidup dan proses pemulihan diri.
Perjalanannya tidak mudah. Saat pertama kali kuliah di UMY pada 2015, Amirul berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Untuk bertahan hidup, ia mengabdi sebagai marbot di Masjid Khusnul Khotimah, Bantul, sembari berjualan keliling. Bahkan, ia kerap berjalan kaki dari kawasan kampus menuju Malioboro untuk menjajakan dagangannya demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan.
Kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Amirul aktif mencari berbagai peluang beasiswa hingga berhasil memperoleh Beasiswa Kader Muhammadiyah saat menempuh pendidikan sarjana. Setelah menyelesaikan S1 dalam waktu 3,5 tahun, ia melanjutkan studi magister di UIN Sunan Kalijaga melalui Beasiswa Unggulan, sebelum akhirnya kembali ke UMY untuk menempuh program doktoral dengan jalur beasiswa yang sama.
Selain aktif di dunia akademik, Amirul juga dikenal sebagai salah satu pengurus dan pegiat filantropi Muhammadiyah. Di Sumatera Barat, namanya turut dikenal melalui kiprahnya bersama LAZISMU Sumatera Barat dalam berbagai program sosial, pendidikan, kemanusiaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Bagi Amirul, gelar doktor bukan sekadar simbol prestise akademik. Ia memandang pendidikan sebagai jalan untuk memberi dampak yang lebih luas kepada masyarakat. Karena itu, ia berpesan kepada generasi muda agar tidak menyerah pada keterbatasan dan terus berjuang mengembangkan diri.
“Jangan hanya berpikir untuk menjadi hebat bagi diri sendiri, tetapi jadilah pribadi yang mampu memberikan dampak luas bagi banyak orang,” pesannya.





